MAJALAH CEO - JAKARTA – Perkembangan teknologi digital terus mendorong perubahan signifikan pada infrastruktur penopangnya. Lonjakan kebutuhan komputasi, layanan cloud, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) meningkatkan kebutuhan akan data center dan konektivitas.
Di saat yang sama, tren elektrifikasi serta berkembangnya energi baru terbarukan (EBT) menuntut sistem kelistrikan dan penyimpanan energi untuk menjadi lebih fleksibel. Perubahan ini mewajibkan infrastruktur nasional tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga siap berkembang mengikuti laju teknologi.
Tantangan dan peluang tersebut menjadi fokus utama dalam pameran Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series - Energy Week 2026 yang berlangsung pada 2–5 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Ajang ini mempertemukan tiga sektor utama, yaitu Electric & Power Indonesia, Data Center Asia-Indonesia, dan The Battery Show Indonesia, guna membahas kesiapan infrastruktur dalam mendukung transformasi industri nasional.
Kebutuhan data center di Indonesia terus melonjak seiring pesatnya era komputasi. Dalam forum Data Center Asia–Indonesia, perwakilan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat bahwa Indonesia saat ini telah memiliki 246 data center yang tersebar di 134 lokasi.
Pembangunan data center kini tidak sekadar berfokus pada peningkatan kapasitas, melainkan efisiensi ruang dan energi, serta kemudahan dalam ekspansi tanpa perlu merombak ulang infrastruktur dasar.
Digital Solutions Director for South East Asia Prysmian Group, Tandi Suriani, menekankan pentingnya pendekatan yang siap tumbuh sejak tahap perancangan awal.
“Data center hari ini harus dibangun dengan mempertimbangkan pertumbuhan di masa depan. Solusinya harus scalable dan modular, sehingga ketika data center berkembang, infrastrukturnya tidak harus dibangun ulang dari nol," ujar Tandi.
Ia menambahkan, peralihan kecepatan konektivitas dari 400 menuju 800 GBPS menuntut fiber backbone dirancang agar dapat ditingkatkan tanpa perlu diganti secara menyeluruh.
Fleksibilitas dan pertumbuhan infrastruktur teknologi pada akhirnya sangat bergantung pada ketersediaan serta keandalan pasokan energi listrik.
Presiden Direktur Wirawan Corporation, Michael Hardinata, menilai energi telah menjadi kebutuhan mutlak di era digital. Seluruh perangkat modern, mulai dari internet, kendaraan listrik, hingga fasilitas medis, sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil.
“Energi itu sesuatu yang mutlak. Misalnya saat pandemi Covid-19 lalu, manusia tidak bisa bergerak, tetapi rumah sakit meminta kami untuk tetap bergerak karena pasokan listrik tidak boleh terhenti. Ini membuktikan bahwa sektor kelistrikan akan tetap hidup dan menjadi critical business,” kata Michael.
Hal senada diungkapkan oleh Budi Tedja dari Delta Prima Makmur. Menurutnya, sektor manufaktur membutuhkan infrastruktur yang mampu mengolah energi secara kontinu dan memanfaatkan energi alternatif demi menekan downtime operasional.
Seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik dan EBT, teknologi penyimpanan energi (energy storage) menjadi komponen vital. Namun, tantangan baru muncul terkait pengelolaan baterai yang telah habis masa pakainya.
Limbah baterai kendaraan listrik di Indonesia diproyeksikan mencapai 57.000 ton pada 2030 dan melonjak hingga 322.000 ton pada 2035.
Pakar baterai nasional, Prof. Dr. rer. nat. Evvy Kartini, menyoroti pentingnya kejelasan pengukuran kualitas serta siklus hidup baterai. Saat ini Indonesia belum memiliki lembaga khusus untuk mengukur sisa kualitas baterai secara komprehensif.
“Ini menjadi pekerjaan rumah penting dalam membangun ekosistem baterai nasional, termasuk kebutuhan terhadap special tools untuk mengukur kondisi baterai serta penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) agar pengguna tahu usia optimal baterai. Baterai bekas seharusnya tidak hanya dilihat sebagai limbah, melainkan sumber daya yang memiliki nilai melalui alih fungsi (repurposing) dan daur ulang (recycling),” terangnya.
Sementara itu, Energy Solution Director Huawei, Simon Wan, menambahkan bahwa pertumbuhan EBT mengubah cara sistem energi dikelola. Sistem daya kini dituntut menjadi lebih lokal, fleksibel, dan terintegrasi dengan jaringan cerdas (smart grid).
Gelaran IEE Series – Energy Week 2026 memasuki hari terakhirnya pada Sabtu (5/9/2026) di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Ajang ini menghadirkan ruang diskusi bagi para pelaku industri, penyedia teknologi, dan pemangku kepentingan untuk merumuskan masa depan infrastruktur energi Indonesia.
Masyarakat dan pelaku industri yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai pameran serta seminar dapat mengakses situs resmi di www.iee-series.com.

0 Komentar