Majalahceo.com | SUBANG – Dalam rangka mendukung keberhasilan Program Citarum Harum serta menjaga kelestarian lingkungan di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Sektor 8 Citarum Harum melaksanakan Sosialisasi Terpusat Tahun 2026 tentang Penanggulangan Limbah Kohe (Kotoran) Sapi di wilayah Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Kamis (25/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kecamatan Ciater mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Komandan Satgas Citarum Harum, Sekretariat Satgas Citarum Harum, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Subang, Dinas Peternakan Kabupaten Subang, Ketua KPSBU Lembang, Camat Ciater, Kapolsek Jalan Cagak, para kepala desa se-Kecamatan Ciater, serta perwakilan masyarakat dan peternak.
Sosialisasi dilaksanakan sebagai upaya membangun kesadaran bersama bahwa pengelolaan limbah ternak, khususnya limbah kohe sapi, merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas lingkungan hidup sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat peternak.
Acara diawali dengan pembukaan dan sambutan dari Dansektor 8 Citarum Harum serta perwakilan Forkopimcam. Selanjutnya peserta mendapatkan materi dari Dansatgas Citarum Harum Kolonel Inf Yanto Kusno Hendarto, S.H., perwakilan DKPP Provinsi Jawa Barat Try Andreas Ilham Putra, S.Pt., Sekretariat DLH Kabupaten Subang Mariska, serta perwakilan Dinas Peternakan Kabupaten Subang.
Dalam sambutannya, Dansektor 8 Citarum Harum Kolonel Inf Masrief menegaskan bahwa persoalan limbah ternak tidak dapat dianggap sebagai masalah kecil karena memiliki dampak langsung terhadap kebersihan lingkungan, kesehatan masyarakat, dan kualitas air sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Menurutnya, wilayah Kecamatan Ciater dan sekitarnya merupakan salah satu kawasan peternakan sapi perah yang memiliki potensi ekonomi besar. Namun di sisi lain, jumlah populasi ternak yang tinggi juga menghasilkan limbah yang cukup besar sehingga harus dikelola secara baik dan bertanggung jawab.
“Melalui kegiatan sosialisasi ini, kami ingin mengajak seluruh peternak dan masyarakat untuk memiliki kesadaran yang sama bahwa limbah kohe sapi bukan hanya sekadar sisa hasil peternakan, tetapi merupakan sumber daya yang memiliki nilai manfaat apabila dikelola dengan benar. Sebaliknya, apabila dibuang sembarangan ke sungai atau lingkungan sekitar, limbah tersebut dapat menjadi sumber pencemaran dan menimbulkan berbagai permasalahan,” ujar Kolonel Inf Masrief.
Ia menjelaskan bahwa salah satu fokus utama Program Citarum Harum adalah mengurangi berbagai sumber pencemaran yang masuk ke sungai, termasuk limbah peternakan. Oleh karena itu, diperlukan sinergi seluruh pihak mulai dari pemerintah daerah, kelompok peternak, aparat kewilayahan, hingga masyarakat dalam menciptakan sistem pengelolaan limbah yang berkelanjutan.
“Pengelolaan limbah kohe sapi yang baik bukan hanya bertujuan menjaga kebersihan sungai, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi. Limbah dapat diolah menjadi pupuk organik, pupuk cair, maupun biogas yang memiliki nilai jual dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Inilah yang harus terus kita dorong dan kembangkan bersama,” katanya.
Lebih lanjut, Kolonel Inf Masrief menyampaikan bahwa keberhasilan pengelolaan limbah ternak sangat bergantung pada perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat. Menurutnya, menjaga lingkungan harus menjadi budaya yang tumbuh dari kesadaran, bukan sekadar karena adanya aturan atau pengawasan.
“Kami berharap para peternak mulai menerapkan sistem pengelolaan limbah yang ramah lingkungan. Jangan lagi ada limbah ternak yang dibuang langsung ke saluran air atau sungai. Lingkungan yang bersih akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat, baik dari aspek kesehatan, kenyamanan, maupun keberlanjutan usaha peternakan itu sendiri,” tegasnya.
Dansektor 8 juga menyoroti dampak limbah yang tidak terkelola dengan baik, seperti munculnya bau tidak sedap, berkembangnya lalat, serta meningkatnya risiko penyebaran penyakit yang dapat mengganggu kesehatan manusia maupun ternak.
“Oleh karena itu, melalui sosialisasi ini kami ingin memberikan pemahaman bahwa pengelolaan limbah merupakan investasi jangka panjang. Ketika lingkungan terjaga, masyarakat sehat, usaha peternakan berkembang, dan program pelestarian sungai dapat berjalan dengan baik,” tambahnya.
Sementara itu, dalam sesi pemaparan materi, para narasumber menjelaskan berbagai metode pengolahan limbah ternak yang dapat diterapkan oleh peternak, mulai dari teknik pembuatan kompos, pengolahan pupuk organik cair, hingga pemanfaatan limbah sebagai sumber energi alternatif melalui biogas.
Para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan disampaikan terkait teknis pengelolaan limbah, dukungan pemerintah terhadap kelompok peternak, serta peluang pengembangan usaha berbasis pengolahan limbah ternak.
Kegiatan sosialisasi ditutup dengan ramah tamah dan doa bersama. Seluruh rangkaian acara berlangsung aman, tertib, dan lancar.
Usai pelaksanaan sosialisasi, Dansatgas Citarum Harum Kolonel Inf Yanto Kusno Hendarto, S.H., bersama Dansektor 8 Citarum Harum Kolonel Inf Masrief, Ketua KPSBU, serta Sekretariat Satgas Citarum Harum melaksanakan peninjauan ke Kampung Susu (Dairy Village) milik KPSBU di wilayah Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang.
Peninjauan tersebut bertujuan melihat secara langsung perkembangan sektor peternakan sapi perah sekaligus mendorong penerapan pengelolaan limbah yang lebih modern, produktif, dan ramah lingkungan sebagai bagian dari upaya bersama menjaga kelestarian DAS Citarum.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, Sektor 8 Citarum Harum berharap tercipta kesadaran kolektif masyarakat untuk menjadikan pengelolaan limbah kohe sapi sebagai bagian dari budaya hidup bersih, sehat, produktif, dan berwawasan lingkungan demi terwujudnya Citarum yang bersih, harum, dan berkelanjutan.***


0 Komentar