Pandeglang – Sejumlah orang tua siswa mengeluhkan kualitas dan porsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima anak-anak mereka. Menu yang disajikan diduga tidak sebanding dengan besaran pagu anggaran yang diterima Dapur MBG Fastabikul Qhirat, yang berlokasi di Kampung Karet, Desa Angsana, Kecamatan Angsana, Kabupaten Pandeglang.
Salah seorang orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya terhadap menu MBG yang diterima anaknya pada Senin, 12 Januari 2026. Ia merinci, menu yang diterima saat itu hanya terdiri dari nasi satu porsi, tempe dua irisan, kornet dua irisan, timun dua irisan, dan satu lembar selada.
“Kalau dilihat dari menunya, kami merasa ini jauh dari layak jika dibandingkan dengan anggaran yang seharusnya diterima dapur MBG,” ujarnya.
Keluhan serupa kembali muncul pada Kamis dan Jumat. Pada hari Kamis, siswa hanya menerima basahan jagung, nugget goreng dua irisan, tahu satu potong, jeruk dua buah, susu kotak merek Tango satu, roti satu, dan telur satu butir. Sementara untuk Jumat, menu tersebut disebut sebagai jatah dua hari sekaligus lantaran kegiatan belajar mengajar diliburkan.
“Kami menduga menu makanan yang diterima anak-anak kami tidak sesuai dengan besaran pagu anggaran. Kalau memang tidak sanggup, lebih baik anggarannya ditunaikan saja,” tegasnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Suparta yang mengaku sebagai Pengelola Dapur MBG Fastabikul Qhirat mengakui adanya sejumlah kekurangan dalam pelaksanaan program, khususnya pada aspek teknis produksi menu.
Menurutnya, sebagian besar karyawan dapur masih belum berpengalaman sehingga wajar terjadi kesalahan pada pekan pertama pelaksanaan. “Karyawan kami memang baru dan belum berpengalaman. Insya Allah minggu depan sudah bisa lebih baik. Kalau sudah lewat satu minggu masih kebablasan, itu baru kesalahan besar,” ujarnya.
Suparta juga menyampaikan bahwa pihaknya sebenarnya telah melibatkan ahli gizi dalam penyusunan menu. Namun ia menegaskan bahwa persoalan yang terjadi lebih disebabkan kendala teknis di lapangan, bukan pada perencanaan.
“Menu diproduksi berdasarkan perhitungan, ada ahli gizi juga. Tapi memang dalam praktiknya banyak yang gagal karena teknis dan SDM yang baru. Kami akui ada kesalahan-kesalahan,” katanya.
Ia memastikan seluruh kritik dan masukan dari masyarakat akan dijadikan catatan penting untuk perbaikan. “Kami tekankan semaksimal mungkin untuk memperbaiki menu mulai hari Senin ke depan. Menu akan kami jamin lebih berkualitas sesuai harapan anak-anak,” tambahnya.
Meski demikian, Suparta mengakui adanya ketidakseimbangan porsi yang diterima siswa. “Kadang porsinya besar, kadang kecil, kadang lebih, kadang kurang. Itu memang harus kami atur dan kami perbaiki. Kesalahan teknis ini kami akui dan berjanji akan diperbaiki ke depannya,” pungkasnya."(Tim/red)



FOLLOW THE MAJALAH CEO AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow MAJALAH CEO on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram