Bandung, 6 Mei 2026 — Upaya penanganan sampah di Kota Bandung terus diperkuat melalui peninjauan langsung sejumlah fasilitas pengolahan oleh Dansatgas Citarum Harum, Yanto Kusno Hendarto, bersama Dansektor 9.
Kegiatan ini menyasar Alat Penghancur Sampah (APS) di TPS Ciwastra, TPS3R Motah 63 Derwati, serta Tempat Pengolahan Sampah Terpadu-Edukasi (TPST-E) Gedebage, Rabu (6/5/2026).
Turut hadir dalam kegiatan tersebut unsur Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Perumda Pasar Ciwastra, Pabanda Bhakti TNI Sterdam III/Siliwangi, serta PPK DAS Citarum.
Dalam peninjauan tersebut, terungkap bahwa persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar di berbagai wilayah, khususnya di area pasar. Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan daya tampung TPA Sarimukti yang saat ini telah mengalami kelebihan kapasitas (overload).
Menurut Kolonel Yanto Kusno, kondisi TPA Sarimukti yang sudah tidak memungkinkan untuk menampung tambahan sampah menjadi peringatan serius. Jika dipaksakan, dampaknya bisa membahayakan lingkungan di Jawa Barat.
Oleh karena itu, solusi utama bukan lagi menambah kapasitas pembuangan, melainkan mengoptimalkan pengelolaan dari sumbernya.
Ia menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah.
Sampah yang dibuang seharusnya benar-benar berupa residu, yakni limbah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak dapat diolah kembali.
“Jika sampah tidak dipilah terlebih dahulu, sebesar apa pun kapasitas mesin tidak akan mampu mengimbangi volumenya. Mesin dirancang untuk mengolah residu, bukan sampah campuran seperti logam atau sisa makanan,” jelasnya.
Sementara itu, untuk TPS3R Derwati, ia menilai sistem pengolahan yang ada sudah berjalan cukup baik. Namun, masih diperlukan pembenahan dari sisi manajemen, khususnya dalam hal kemandirian operasional.
Ketergantungan terhadap anggaran pemerintah (APBD), menurutnya, harus mulai dikurangi. Hal ini penting agar operasional fasilitas tetap berjalan meskipun terjadi perubahan kebijakan anggaran di masa depan.
“Jika terus bergantung pada APBD, ada risiko operasional terhenti dan mesin menjadi tidak terpakai. Ke depan, pengelolaan harus diarahkan agar lebih mandiri, sehingga pembiayaan operasional dapat ditopang secara berkelanjutan,” tambahnya.
Melalui langkah ini, diharapkan sistem pengelolaan sampah di Kota Bandung dapat bertransformasi menjadi lebih efektif, mandiri, dan berkelanjutan—dengan menempatkan pemilahan dari sumber sebagai kunci utama penyelesaian masalah.






FOLLOW THE MAJALAH CEO AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow MAJALAH CEO on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram