Majalahceo.com,KBB,-Dalam rangka mendukung percepatan penanganan limbah peternakan di wilayah hulu DAS Citarum, Komandan Sektor 8 Citarum Harum Kolonel Inf Masrief melaksanakan kegiatan survei lapangan terkait rencana pembangunan fasilitas pengolahan limbah kotoran hewan (Kohe), Kamis (7/5/2026).
Kegiatan pertama dilaksanakan pukul 08.00 WIB sampai dengan 09.30 WIB bertempat di Desa Suntenjaya, kawasan Kebun Bukit Tunggul wilayah Perkebunan PTPN 1 Regional 2. Dalam kegiatan tersebut, Dansektor 8 bersama pihak terkait melakukan peninjauan langsung terhadap lahan yang direncanakan untuk pembangunan pabrik pengolahan Kohe.
Dari hasil survei lapangan, pihak PTPN 1 Regional 2 memberikan respon positif terhadap rencana pemanfaatan areal dimaksud. Lahan yang disurvei memiliki luas sekitar 1,8 hektar dengan kebutuhan lahan pembangunan diperkirakan sekitar 8.000 meter persegi. Lokasi tersebut dinilai cukup strategis karena memiliki akses jalan yang berada tepat di samping areal serta terdapat anak Sungai Cikapundung di sekitar lokasi.
Selain itu, berdasarkan data lapangan, populasi ternak sapi di Desa Suntenjaya mencapai sekitar 1.256 ekor, sedangkan di Desa Cibodas sekitar 764 ekor, sehingga keberadaan fasilitas pengolahan Kohe dinilai sangat penting guna mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah peternakan.
Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan saran agar dilakukan pengajuan surat resmi dari Pangdam kepada PTPN 1 Regional 2 terkait pemanfaatan areal yang akan digunakan untuk pembangunan pabrik pengolahan Kohe.
Selanjutnya pada pukul 09.30 WIB, Dansektor 8 melanjutkan kegiatan survei ke wilayah Desa Cibogo, Kecamatan Lembang, tepatnya di samping kawasan BMC pada lahan milik PT Agronesia BUMD Provinsi Jawa Barat.
Hasil peninjauan di lokasi kedua menunjukkan bahwa limbah Kohe yang mengalir dari Sungai Cilember dan Sungai Cibeduk sudah sangat mengkhawatirkan sehingga memerlukan penanganan secara intensif dan berkelanjutan. Kedua aliran sungai tersebut diketahui bermuara dan bertemu di Sungai Cikapundung.
Berdasarkan keterangan kelompok tani yang ditemui di lapangan, pengolahan Kohe yang dilakukan saat ini baru sekitar 30 hingga 40 persen, sementara sisanya masih banyak yang dibuang langsung ke aliran sungai. Kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab pencemaran lingkungan di wilayah hulu DAS Citarum.
Sebagai langkah penanganan awal, disarankan agar dilakukan peminjaman lahan milik PT Agronesia untuk pembangunan tandon penampungan limbah Kohe di beberapa titik strategis. Dalam hal ini, pihak KPSBU menyatakan kesiapan untuk membantu proses pembuatan tandon sebagai bagian dari upaya bersama menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung keberhasilan Program Citarum Harum.





FOLLOW THE MAJALAH CEO AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow MAJALAH CEO on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram