Majalahceo.com |Bandung — Satgas Citarum Harum terus memperkuat upaya pengendalian pencemaran dan pengelolaan lingkungan melalui kegiatan sosialisasi Program Citarum Harum Tahun Anggaran 2026 kepada masyarakat. Kegiatan tersebut dilaksanakan di RW 02 Kelurahan Margasuka, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, dan dihadiri berbagai unsur pemerintah, tokoh masyarakat, serta warga setempat.
Kegiatan sosialisasi dipimpin langsung oleh Dansatgas Citarum Harum, Yanto Kusno Hendarto, bersama unsur Sekretariat Satgas Citarum Harum dari Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung, jajaran Sektor 9 Citarum Harum, tokoh masyarakat, serta aparatur wilayah setempat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Shandy dari Sekretariat Satgas Citarum Harum, Dadang Setiawan, Dansektor 9 Citarum Harum Sudrajat beserta jajaran, serta Lurah Margasuka Darmawansyah.
Dalam sambutannya, Kolonel Infanteri Yanto Kusno Hendarto menyampaikan bahwa sosialisasi Program Citarum Harum bukan hanya sekadar penyampaian program pemerintah, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam menangani persoalan sampah dan pencemaran lingkungan.
Menurutnya, RW 02 Kelurahan Margasuka telah menunjukkan langkah nyata dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan dapat dijadikan contoh bagi wilayah lain di Kota Bandung maupun di Jawa Barat.
“Hari ini kita menghadiri kegiatan sosialisasi Program Citarum Harum 2026 yang dilaksanakan oleh Sektor 9 Citarum Harum. RW 02 ini bisa menjadi salah satu percontohan dalam pengelolaan sampah.
Dari hasil pemaparan Ketua RW dan masyarakat tadi, di lingkungan ini telah mampu mengelola sampah dari sekitar 329 kepala keluarga,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga dan lingkungan terkecil seperti RT dan RW. Hal tersebut sejalan dengan arahan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar penanganan sampah dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan.
“Penyelesaian sampah sebenarnya dimulai dari sumbernya. Apa yang disampaikan Presiden Bapak Prabowo maupun Gubernur Jawa Barat bahwa permasalahan sampah harus diselesaikan mulai dari lingkungan rumah tangga. Jangan hanya mengandalkan pengangkutan sampah untuk dipindahkan ke tempat lain tanpa ada pengelolaan di tingkat masyarakat,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada kemauan dan kepedulian masyarakat dalam mengubah pola hidup dan kebiasaan sehari-hari.
“Tinggal ada kemauan dan kesadaran bersama. Hasilnya pun nantinya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat itu sendiri.
Apa yang dilakukan RW 02 sangat luar biasa dan bisa menjadi contoh bagi RW lainnya, bukan hanya di Kota Bandung tetapi juga di seluruh Jawa Barat. Masalah sampah adalah persoalan bersama yang harus ditangani secara bersama-sama,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Dadang Setiawan, menjelaskan bahwa persoalan sampah di Kota Bandung masih menjadi tantangan besar yang membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.
Ia menyampaikan bahwa volume sampah di Kota Bandung mencapai sekitar 1.500 ton per hari dengan jumlah populasi siang hari sekitar 2,6 juta jiwa. Sampah tersebut berasal dari berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari rumah tangga, pasar, hotel, restoran, kafe, perkantoran, program MBG, hingga berbagai kegiatan masyarakat lainnya.
“Sampah yang dihasilkan masyarakat sebagian masuk ke saluran air dan sungai, termasuk Sungai Citarum beserta anak-anak sungainya. Mulai dari sampah plastik hingga barang bekas seperti kasur rusak sering terbawa aliran air dari wilayah hulu hingga ke wilayah hilir,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penumpukan sampah di aliran sungai dapat menyebabkan penyumbatan saluran air dan meningkatkan risiko banjir, khususnya di kawasan yang dilalui aliran sungai.
“Mari kita bersama-sama menjaga aliran Sungai Citarum dan anak sungainya dengan mencegah sampah dari sumbernya.
Tempat pembuangan akhir kita saat ini sudah semakin penuh. Karena itu masyarakat perlu mulai mengurangi penggunaan plastik dan membiasakan memilah sampah organik serta anorganik,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tampak antusias mengikuti sesi dialog dan tanya jawab terkait pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.
Berbagai masukan, kendala, dan usulan dari warga menjadi bagian penting dalam memperkuat kolaborasi penanganan sampah berbasis masyarakat.
Satgas Citarum Harum menilai keterlibatan aktif masyarakat merupakan faktor utama dalam mendukung keberhasilan program pemulihan DAS Citarum. Oleh karena itu, edukasi, sosialisasi, dan pendampingan kepada masyarakat akan terus dilakukan secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah semakin meningkat sehingga kualitas lingkungan, khususnya di wilayah DAS Citarum, dapat terus membaik secara berkelanjutan.****





FOLLOW THE MAJALAH CEO AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow MAJALAH CEO on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram